Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2014

Cerita Mini – Kisah Lama dalam Dirimu

“Kapan kau punya waktu? Bagaimana kalau sore ini sepulang sekolah?” Dia hanya diam. 

Sepulang sekolah ia berjalan ke halaman belakang, dan aku mengikutinya. 
            “Kemarilah aku tahu kau membuntutiku.”
Dia memalingkan wajahnya ke arahku, jantungku berdegup tak karuan, aku sulit memulai kata-kata. 
Tanganku berkeringat hebat.
            “Aku ingin…kau katakan perasaanmu sekarang. Apa yang kau rasakan tentang hatimu padaku?”
            “Lebih baik kita hanya berteman.”
            “Apa? Tapi kemarin kau berkata, aku punya mata dimana-mana untuk mengawasimu di sepanjang jalan yang kau lalui, aku ada di situ. Dalam hatimu. Lalu sekarang?”
            “Aku melakukannya karena aku kasihan padamu, Sya.”
            “Sesya? Kenapa kamu masih menyebut namaku dengan cara seperti itu? Dan melakukan pengakuan seperti ini di depanku?”
            “Ini kan mau kamu. Kamu harus tahu aku hanya kasihan denganmu. Cukup, tidak ada yang perlu aku jawab lagi.”
Rendra berlalu meninggalkanku sendirian di tengah halaman belakang. Hujan turun berderai-derai, aku berlari menembus hujan dan menahan perasaanku.
Sumber: pradita3.blogspot.com

Selasa, 08 April 2014

Gadis Bermata Biru

Kau pasti sudah mati bila tidak segera aku cegah tindakan nekatmu kala itu. Dua hari selepas malam yang paling pahit itu, kau mengajakku minum kopi di Pavilion Café. Sebagai balas budi, begitu isi pesan terakhirmu via telepon sebelum kita bersua.
        
“Terima kasih telah menolongku” ujarmu sesaat seusai tangan mungilmu sibuk menghiasi Coffee Latte yang masih hangat.
“Aku hanya berada di waktu dan tempat yang tepat” balasku singkat.
“Bukan kebetulan kau berada di sana. Tuhan telah mengirimmu malam itu. Entah bagaimana, hanya Dia yang tahu”sahutmu lagi lalu menikmati kopi itu.
      Dan malam itu berlalu. Pertemuan kita di Lamberth Bridge telah membuka lembaran baru persahabatan kita. Ya, persahabatan yang terbentuk tanpa sengaja. Sebuah kebetulan semata. Mungkin.
    Setelah hari itu, kau sering mengajakku menghabiskan malam di Pavilion Café, sesekali menikmati  aroma malam di Westminster Abbey, berkelana di tengah lautan buku perpustakaan Britania, bergandengan tangan menelusuri bangku-bangku Kensington Garden, sesekali beradu pandang di Taman Istana Buckingham, menghabiskan Minggu pagi di Gereja St. Margareth  dan segala kebiasaanmu tiba-tiba tertular padaku.
   Satu yang masih terekam jelas dalam bayangan kebersamaan kita. Kau mengajakku menyaksikan pertandingan Chelsea akhir pekan itu.
“Kau tidak mau menemaniku ke Stamford Bridge?”tanyamu di depan pintu sembari memegang dua tiket masuk.
“Aku benci Chelsea”
“Mengapa?”tanyamu lagi dengan tatapan lugu.
“Aku Barcelonistas” balasku singkat.
Dia tertawa sejadinya. Menatapku penuh senyum kemenangan.
“Bukan karena Champions kemarin kan?”
“Itu hanya salah satunya”
Dan kau tertawa lagi. Sekali lagi. Tawa yang memecah petang di Street IX.
“Ayo temani aku. Paling tidak untuk hari ini saja”pintamu lagi.
Dan malam itu jadi lebih spesial. Bisa kusaksikan kegirangan yang terbenam dalam kedua mata birumu itu. Kita sama-sama mencintai sepak bola. Sayangnya, pilihan kita berbeda.
      “Mengapa kau mencintai Chelsea?”tanyaku suatu malam ketika kita berada diantara ribuan warna merah Theatre of Dreams.
 
“Apa? Aku tak mendengar. Di sini sangat ribut” ujarmu sembari mendekatkan wajahmu. Wangi rambut pirangmu yang sebahu itu bisa kurasakan begitu rapat.
     “Mengapa kau mencintai Chelsea”tanyaku lagi dengan suara lebih keras.
     “Aku terlahir di kota ini. Dan aku mencintai Chelsea. Mereka kebanggaan kami”balasmu santai.
Kau menatapku sesaat dengan mata yang menyimpan seribu tanya.
   “Lalu kau, mengapa kau mencintai Barcelona? Tidak adakah klub dari kotamu yang bisa kau banggakan?”serangmu kemudian.
Aku diam. Memperhatikan kau yang terlihat cantik memakai baju biru itu.
      “Sepakbola di negeriku sedang kacau. Mudah sekali dipolitisasi. Semua berpikir merekalah yang paling benar dalam mengelola sepak bola nasional. Kami kehilangan kebanggaan terhadap sepakbola kami sendiri”balasku sebisanya.
       Lalu malam itu pergi. Kau pulang dengan hati yang masih mekar berseri. Tiga angka yang berhasil di bawah pulang Chelsea menambah senyum ceriamu ketika kita kembali ke London dalam perjalanan kereta api.
      Kedekatan diantara kita, telah menumbuhkan ruang istimewa di hatiku. Ini terlihat bodoh. Tetapi keadaan telah membentuk kita demikian. Tidak mungkin kau jatuh cinta padaku. Seorang gadis bermata biru sepertimu (tentu) akan memilih pria bermata biru, bukan lelaki dengan kulit sawo matang dan rambut hitam. Kita berbeda. Memang demikian kenyataannya.
Sekali lagi, hari berlalu begitu cepat. Kita bertemu di London Bridge ketika petang hampir mati di ujung kota.
“Kamu tidak sedang ingin mengucapkan salam perpisahan bukan?” obrolmu membuka percakapan kita.
“Darimana kau tahu demikian?” balasku lagi.
“Seminggu yang lalu kita sama-sama merayakan wisudamu. Itu berarti kau akan pulang ke negerimu kan?”sergahmu lagi.
“Ya memang benar. Aku sudah berusaha menyembunyikan semua ini dari kamu. Tetapi kamu lebih pinta untuk membaca situasi.”
“Lalu”tambahmu lagi sembari menatapku polos. Tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Matamu tampak berkaca-kaca.
“Dua hari lagi aku akan pulang. Ceritaku di sini nyaris berakhir”
Keheningan sekejap menyelimuti kami. Aku tak tahu mengapa, seperti berat harus meninggalkan kota ini. Lebih parahnya lagi, aku berat harus meninggalkan gadis bermata biru ini. Dialah pesona kota tua ini.
“Kamu tidak akan kembali lagi? Maksudku kembali ke kota ini?”
“Tidak ada alasan lagi aku harus kembali ke sini”jawabku datar.
“Bagaimana kalau tentang aku. Kembalilah karena aku di sini.”balasmu cepat.
“Itu tidak cukup”
“Kembalilah karena aku mencintaimu”tambahmu lagi.
Aku diam. Keheningan kembali merapat.
“Untuk waktu yang lama, aku menunggumu berbicara jujur tentang hati. Tetapi itu tidak pernah datang dari bibirmu.Dan hari ini, paling tidak aku sudah jujur dengan keadaan.”
“Aku tak ingin menaruh harapan yang sedemikian besar. Toh kita akan sampai juga pada hari ini, seperti saat ini dan itu pasti terdengar menyakitkan.”
“Aku butuh jawabanmu kini. Beritahu sesuatu yang bisa membuatku merasa kita pernah bersama.” imbuhmu lagi sembari memegang tanganku. Kedua mata birumu menyimpan harapan seribu tahun yang sulit ditebak.
“Aku pun mencintaimu Julie”
“Jika demikian, kembalilah untuk itu. Aku akan selalu menunggumu di sini”
 
Sumber: kotak-cermin.blogspot.com
 

Minggu, 22 Desember 2013

sedihku itu kharisma

Terimakasih aku terlahir sensitif
Terimakasih aku terbawa untuk selalu sedih
Terimakasih Aku terkondisi untuk selalu mengalah
Terimakasih Aku selalu dalam ruang resah
Terimakasih hatiku berhubungan erat dengan selaput air mata
Karena membuatku dapat lebih peka dan merasa
Terimakasih Aku dapat melihat hal yang orang lain sulit untuk melakukan
Terimakasih aku mampu untuk mudah jatuh cinta
Terimakasih Aku dilegakan untuk mudah memaafkan
Terimakasih Tuhan
Aku dengan segala kesensitifan
Untuk bertahan
bertahan
dan bertahan
Yang orang lain
belum tentu mampu melakukan

Terimakasih Tuhan
dengan segala kesakitan
Aku masih saja dikuatkan
Terimakasih.

Sumber: fiksi.kompasiana.com

Kamis, 24 Oktober 2013

Kata-Kata Mengisi Kesepian

MENGAPA saat itu kita dipertemukan kalau pada akhirnya kita dipisahkan seperti ini?
Mungkinkah ada sinar bersama impianku? Suasana tak akan indah dalam waktu yang cepat. Aku tahu itu tak mungkin.


Detik-detik yang dilalui jiwaku telah berubah gelisah dan membisu. Pada hal…Aku telah setia menantimu disini dalam kamar sunyi sendirian tanpa aku tahu kapan engkau kembali. Kini dirimu laksana banyangan yang tak pernah bisa kusentuh.

Bulan itu masih bersinar setiap malam. Aku dan kamu telah berhenti membina hubungan cinta yang sekian lama terbina. Cintaku layu. Kau rebut hatiku dan membingkainya dalam relung terdalam keangkuhanmu. Mudah kau akhiri semuanya dengan mengkhianati diriku. Panas laksana mentari yang telah mengekalkan dirinya karena bulan telah ditelan.

Engkau telah lama berlalu. Namun janji-janji kita masih kuingat selamanya di pantai itu. Rasa cintaku telah mencapai puncaknya. Tapi kini tak ada artinya sama sekali. Hatiku malu pada diriku sendiri. Hanya gumpalan rindu yang bisa kusimpan tanpa bisa menuangkannya dalam gelas hatimu.
Aku tahu sejak dulu kamu tak pernah mau pedulikan hatiku. Dan dirimu tak sudi sama sekali mendengarkan kata-kataku. Mengapa engkau tega melakukan ini padaku sayang?

Wanita idamanku kini dimiliki lelaki lain. Dan cintaku pun punah di tengah jalan. Mengapa kau pura-pura mencitaiku? Aku tersiksa sekali karena semua ini. Tak ada yang kau pikirkan akan sakit yang kuderita. Aku menantap sayu kini ke arahmu. Kau tak sudi menoleh walau sedetik.
Kini diriku ditemani penyesalan mendalam setelah kau hentikan cintamu padaku.

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Minggu, 22 September 2013

Hidup Dalam Belajar

Hadapi segala rintangan dengan penuh kesabaran. jangan pernah menyerah untuk menhadapinya, yakinlah segala rintangan itu dapat kamu lalui dengan mudah. Berfikir positif, dan kamu harus tahu bahwa dalam kehidupan ini tak pernah lepas dari kata belajar.
  • Belajar bersyukur walau kekurangan.
  • Belajar ikhlas walau tidak rela.
  • Belajar memahami walau tidak sehati.
  • Belajar intropeksi walau tidak salah.
  • Belajar sabar walau tidak kuat.
Kamu harus belajar dari semua kehidupan kamu. jadikan pengalamanmu sebagai hikmah dalam hidupmu.”experience is the best teacher”

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Rabu, 11 September 2013

Satu Tetesan Air Mata Ibu adalah Seribu Derita Untukku

Bagiku ibu itu segalanya , bagiku ibu itu mutiara ..

Tetesan keringat , urat nadi ,hati  dan jantung seakan tak mau berhenti menyebut satu nama setelah nama TUHAN .. nama itu adalah IBU ..

Cerita ini adalah pengalaman pribadi yang ku alami delapan bulan ini , cerita bermula saat bulan januari setelah pulang kuliah .

dok dok dok , ku ketuk pintu rumahku yang terkunci dari dalam rumah , *kreeek bunyi pintu rumah yang sudah ramah ku dengar sejak aku kecil , tiba tiba kulihat ibu sedang duduk termenung di kursi ruang tamu rumahku yang mini itu , kemudian ku jabat tangannya dan ibu pun memeluk tubuhku yang masih basah dengan keringat karna panasnya cuaca saat itu , dan beliau berkata kepadaku ,”Le.. mak’e piye iki?? ” (dalam bahasa indonesia : ” nak bagaimana dengan ibu ini ??” .. aku linglung dan tak tau ap yang dimaksud dengan pertanyaan ibuku itu .

aku : ” teng nopo mak ?pun nangis !” ( kenapa ibu , jangan nangis ! ) * sambil kupeluk erat dan ku elus dada ibuku yang mulai terdengar degup jantung yang tak beraturan .

ibu : ” mak e kenek tumor !! ” (ibu kena tumor !! ) * sekejap tubuh ku lemas tak berdaya mendengar perkataan ibu yang mulai terpatah patah akibat tangisnya .

aku : ” pun nangis mak , sedoyo enten obate . ikhtiar ndongo marang gusti , sedoyo keluarga mesti padosne” (jangan menangis ibu , semua pasti ada obatnya , ikhtiar berdoa pada yang kuasa , semua keluarga pasti mencarikan obat untukmu)

ibu : *peluk kembali diri ini

mulai percakapan singkat yang begitu memukul saya itu lah yang membuat saya mencoba untuk membuat bahagia ibu , mulai dari berobat kerumah sakit dan sampai pada akhirnya ibu tibalah saatnya untuk operasi .. namun yang terjadi bukan seperti yang apa saya harapkan , setelah keluar ruang operasi ibuku hanya bisa berkedip hanya bisa meneteskan air mata dari mata kirinya .
dari situlah aku paham betapa menderitanya aku jika air mata itu tetep keluar menetesi pipinya yang mulai keriput itu , apalah namanya mall praktek lah , salah operasi lah .. aku tak pedulikan itu , apakah dengan jalan saya menuntut pihak rumah sakit akan menyembuhkan penyakit yang sudah melekat di hati ibu ?
berusah menyadari bahwa semua adalah jalan-Nya , tuhan tak bakal memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya ..  Ibu saya ternyata menderita stroke sebelah , yaitu organ tubuh bagian kanannya sudah tak berfungsi seperti biasanya .

setiap malam gak pernah aku lewatkan berdoa untuk tak mendoakan ibu , karna bagiku nyawaku berasal dari Tuhan lewat kandungannya . ku menangis dan seolah semua apa yang kulakukan selalu patah , dan tak lepas dari pikiranku tentang ibu . sampai saat ini pun ibuku hanya bisa terbaring lemah dengan kondisi yang semakin kurus .

Ingin rasanya setiap ku memandikan tubuh ibu aku minum air sisa mandi itu , agar aku mengerti dan merasakan hangatnya hati yang masih mengalir dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya , dan apa yang dia rasakan bisa saya rasakan juga .

ibu..
waktu masih berjalan ..

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

patahan lagu itulah yang setiap malam saat aku merenung sendiri pasti akan aku bunyikan dan aku dengar di telinga ini . doaku ya Rob , kuatkan dan selalu kuatkan jalan ibuku di jalanMu dan lekas sembuhkan ibuku ya Rob , karna tetesan air mata ibu adaalah beribu derita untuk hambamu ini .

pesan moral : bagi kalian yang masih punya Ibu jangan lah engkau sia siakan kasih sayangnya , berbaktilah pada ibu , dan ingat jika suatu saat kau tanpanya pasti kau akan merasa lebih menderita dari penderitaan lain , usap dan cium kaki ibu ,.. aku yakin kamu pasti akan menyadari betapa nyawanya hanya dikorbankan untuk anak tersayangnya , semenjak kalian masih jadi embrio , sembilan bulan diperutnya, kecil di buaiannya , disusuinya hingga kalian jadi sseperti sekarang ini .

IBUKU MAHKOTA DUNIA DAN AKHIRATKU

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Minggu, 07 Juli 2013

Surat untuk Istri Kedua

Yang…, melalui goresan tangan ini, kutuliskan apa yang kurasa saat ini.

Berat rasanya mengungkapkannya, namun aku harus jujur dengan diri sendiri. Seharusnya aku mengutarakannya namun apa daya aku tak mampu bertatap rupa dengan dirimu untuk menghalau segala sesak di dada ini.

Aku harap engkau di sana baik-baik saja.

Harus ku akui bahwa engkau telah mencuri perhatianku, setiap kali ku lihat sosokmu, seisi dada bergejolak.
Ada rasa hendak menghianati pilihan hatiku. 

Parasmu yang teduh menyenangkan, berada di dekatmu membuatku tak tenang. Di antara sekian Perempuan Cantik, engkau tampak berbeda. Sosokmu indah dipandang, menjadi fokus perhatian para lelaki.

Dek…, aku lemah… terlalu mudah jatuh hati, terlalu gampang terbuai pandangan mata.

Aku seorang laki-laki, lahir dari satu Perempuan. Apa yang telah kuikrarkan pantang kulanggar!

Saat ini di sini,
aku tegaskan untuk menahan dan membuang keinginan ini sejauh timur ke barat. Kutetapkan bahwa aku tak akan pernah melukai Istri Pertama, mengecewakan anak-anakku. 

Aku tahu hal ini membuatmu sedih, namun aku yakin ada yang terbaik menunggumu di sana. Berjalanlah terus, jangan goyah, niscaya dia mendapatkanmu.

Diri ini tidak ingin dicaci mereka, tak mau aku dijauhi anak, enggan aku berbuat zinah.

Cukuplah satu istri saja. Itu lebih dari cukup!
Aku tak ingin diperhamba inginku, aku tak sudi dikendalikan hawa nafsu.

Aku tidak akan membuka pintu hatiku bagi Perempuan manapun.
Hati ini ada yang punya, dialah istri Pertamaku.

dan… sekali lagi Tak Ada Istri Kedua, Ketiga dst…!

Sumber:  http://fiksi.kompasiana.com

Selasa, 02 Juli 2013

Bunga Mawar Merah untuk Ibu – Cerita Mini Edy Priyatna

Hari ini tanggal 22 Desember 2011, Ajen masuk kuliah pagi sekali. Setelah hanya dua jam kuliah ia segera meninggalkan kampus untuk pulang ke rumah. Dia anak pintar, di rumah ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Ajen pulang bukan karena bolos tetapi hari itu memang sudah tidak ada kuliah lagi. Disamping itu ia baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun ibu, makanya ia buru-buru untuk segera pulang. Dalam perjalanan pulang Ajen sempat mampir ke sebuah toko untuk membeli sebuah kado untuk ibunya.

“Ibu……ibu……ibu…..,” Ajen memanggil ibunya ketika tiba di depan rumahnya.

“Ada apa sayang…,” sahut ibunya, “koq sampai teriak-teriak begitu sih?”

“Ini bu….aku ada hadiah buat ibu. Selamat ulang tahun ya bu…,” kata Ajen memberikan hadiah tersebut sambil memeluk dan mencium ibunya.

“Terima kasih ya nak…..” sahut ibunya sambil menangis. Menerima seikat bunga mawar merah yang indah, persis seperti bunga yang pernah diberikan mendiang suaminya pada saat pertama kali bertemu.-

Sumber:  http://kumpulanfiksi.wordpress.com